Tampilkan postingan dengan label BUKAN CELOTEHAN PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUKAN CELOTEHAN PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2024

KISAH ULAMA YANG SELALU DIKEJAR DUNIA

Tersebutlah seorang ulama min awliyaillah di Kota Seiwun, salah satu kota di Hadramaut, Yaman. Ulama tersebut bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi. Beliau lahir pada tahun 1259H/1839M dan wafat pada tahun 1333H/1913M. Beliau juga terkenal dengan gelar shohibul mawlid Simthudduror karena beliaulah yang mengarang kitab mawlid tersebut. Kitab maulid simthudduror ini berisi syair syair tentang kisah perjalanan hidup dan pujian kepada Baginda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa yang indah dan penuh makna. Bagi kalangan muhibbin, kitab mawlid Simthudduror tentu sudah tidak asing lagi seperti halnya kitab-kitab mawlid yang lain seperti sholawat al-Barzanji, Maulid ad-Diba’I, qosidah Burdah, dan kitab mawlid adh-Dhiya’ul Lami’.

Habib Ali terkenal sangat kaya raya. Bahkan saking kayanya beliau pernah menanggung jatah makan penduduk kota Seiwun selama 3 bulan berturut-turut saat sedang terjadi krisis pangan (paceklik). Konon, yang beliau tanggung bukan cuma manusia saja tetapi termasuk hewan-hewan ternak.

Suatu ketika, saat sedang mengajar ada salah seorang santri jama’ah yang heran dengan kekayaan beliau terbersit dalam hatinya “ulama kok cinta dunia”. Dengan izin Allah, Habib Ali diberi kasyaf untuk bisa membaca bersitan hati santri tersebut. Setelah pengajian selesai, didekatinya santri tersebut. Sambil tersenyum Habib Ali berkata “ungkapkanlah apa yang terbesit di hatimu tadi”. Setengah terkejut santri itupun menghaturkan permohonan maaf dan mengutarakan bersitan hatinya “wahai Habib, mohon maaf jika saya telah suul adab. Tadi terbersit di hati saya yang kotor ini perihal kekayaan dan kecintaan engkau pada dunia”. Habib Ali menjawab kegalauan santrinya “bukan aku yang cinta dunia, tapi dunia yang selalu mengejarku. Jika kau tak percaya tunggulah sebentar lagi”. Tidak berselang lama datanglah seorang tamu dengan membawa hadiah setandan kurma Oman. Zaman itu, kurma Oman adalah kurma terbaik yang hanya dimakan para raja dan bangsawan.

Setelah tamu tersebut berpamitan, Habib Ali pun menghadiahkan kurma tersebut kepada santrinya. Santri tersebut menerima dengan sangat gembira. Sambil tersenyum Habib Ali berkata kepada santrinya “pulanglah dan nikmatilah kurma ini”. Setelah berterima kasih santri tersebut pun pamit diri. Sambil meletakkan kurma di atas kepalanya, santri tersebut berfikir “sungguh kurma ini harganya sangatlah mahal. Jika ku makan sendiri sangatlah rugi. Kalau ku jual pasti aku mendapat untung”. Santri tersebut pun berbelok arah akan membawa kurma Oman tersebut ke pasar.

Di tengah perjalanan santri tersebut bertemu dengan salah seorang sahabatnya yang juga sama-sama santri Habib Ali. Kebetulan sahabatnya ini akan silaturahmi (sowan) ke ndalem Habib Ali. Sahabatnya ini menyapa “ya akhi bagaimana kabarmu? Kurma apa yang engkau bawa?”. Santri menjawab “Alhamdulillah kabarku baik. Aku membawa kurma Oman dan akan ku jual ke pasar”. Sahabatnya tertarik untuk membeli dan bertanya “berapa engkau akan menjualnya”. Si santri menjawab “kalau engkau berkenan aku jual dengan harga lima juta”. Dengan sedikit kaget sahabatnya menimpali “lima juta? Andai engkau jual di harga sepuluh juta pasti orang-orang akan membelinya karena ini kurma Oman jenis kurma para raja. Tapi karena engkau telah menyebut harga lima juta baiklah aku beli dengan harga tersebut”. Santri berkata “tidak mengapa, sebenarnya kurma ini juga hadiah dari seseorang dan aku sudah banyak mendapat untung”.

Singkat cerita, selesailah transaksi dan pertemuan dua orang sahabat tersebut. Sahabat santri tersebut pun sampai di rumah Habib Ali dan menghadiahkan kurma Oman kepada Habib Ali. Habib Ali berkata kepadanya “janganlah engkau terburu-buru untuk pulang, tunggulah sebentar”. Sedangkan si santri ditengah perjalanan menuju ke rumah terbersit di hatinya “aku mendapat untung atas hadiah dari Habib Ali, suul adab jika aku tidak berterima kasih kepada beliau. Sebaiknya aku kembali ke rumah Habib Ali untuk berterima kasih”. Dan santri pun berbelok arah untuk kembali ke rumah Habib Ali. Sesampainya ia di rumah Habib Ali dengan sedikit terperangah dilihatnya Habib Ali sedang menikmati kurma Oman yang telah dijual kepada sahabatnya dan tersentak kaget karena mendengar sapa Habib Ali “bagaimana, apakah sekarang engkau sudah percaya kalau bukan aku yang cinta dunia tapi dunia yang selalu mengejarku? Kurma ini sudah ikhlas ku hadiahkan padamu tapi ia tetap kembali padaku”. Sambil bermuka merah dan tertunduk malu santri menjawab “na’am…shodaqta ya Habib (iya.....engkau benar ya Habib). Sedangkan sahabatnya yang tidak mengerti permasalahan hanya bisa tolah-toleh ke arah Habib Ali dan ke arah santri sahabatnya sambil garuk-garuk kepala karena penasaran.

 

Ditulis di Probolinggo, 11 Syawal 1445H
Disempurnakan di Padukuhan Kupang Wetan, 13 Syawal 1445

Sabtu, 02 Desember 2023

MANGIR; Kisah Romeo dan Juliet Jawa



Selesai sudah ku baca "Mangir", naskah drama panggung tiga babak/tahapan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Tour (1925-2006). Pram seorang penulis kelahiran Blora Jawa Tengah. Pram salah seorang anggota LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) salah satu underbow Partai Komunis Indonesia yang bergerak di bidang seni dan kebudayaan. Pram juga mendapat anugerah Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995 di bidang penulisan sastra dan jurnalistik.

"Mangir" selesai ditulis Pram pada tahun 1976 saat ia dibuang dan ditahan di Pulau Buru bersama para tahanan politik yang beraliran kiri lainnya (baca; komunis) oleh Pemerintah Orde Baru. Mangir hanya salah satu karya Pram saat di pembuangan karena masih ada karya lainnya yang justru lebih terkenal yaitu Tetralogi Pulau Buru yang terdiri dari empat seri; Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).

Sebelum "Mangir" ditulis oleh Pram, sudah ada karya tulis lain yang menceritakan kisah Mangir yaitu Babad Tanah Jawi dan Babad Bedhahing Mangir (mungkin masih ada naskah lain yang menceritakan kisah Mangir, tetapi bukan keahlian penulis dibidang filologi sehingga tidak mengetahuinya ✌) dan menyebar menjadi folklore khususnya di masyarakat Jawa. Pram menulis kembali cerita Mangir dengan versi yang berbeda dari Babad Tanah Jawi dan Babad Bedhahing Mangir. Pembaca tidak akan menemukan tulisan beraroma klenik, mistik dan ragam tahayul dalam "Mangir" versi Pram. Kita maklumi karena Pram yang komunis sangat anti akan cerita-cerita klenik, mistik, dan tahayul. Jadi tidak diceritakan kisah asal muasal dan keampuhan tombak pusaka Kyai Baru Kelinting karena Pram menggantinya dengan sosok ahli strategi/siasat perang sekaligus sahabat setia pemimpin daerah Mangir yang bernama Baru Klinting.

Drama "Mangir" berkisah tentang seorang pemimpin di daerah perdikan (daerah yang merdeka dari pajak) yang bernama Mangir (sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta). Nama aslinya Bagus Wanabaya. Karena memimpin daerah Mangir peninggalan bapak dan kakeknya maka diberi gelar Ki Ageng Mangir Wanabaya atau Ki Ageng Mangir IV. Ki Ageng Mangir sendiri diceritakan Pram sebagai seorang yang sangat anti feodalisme. Di Mangir tidak ada budaya sembah sujud (sungkeman) antara rakyat terhadap pemimpinnya. Semua berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Begitu juga Ki Ageng Mangir yang merasa sebagai orang bebas merdeka tidak mau tunduk dan sungkem kepada Panembahan Senopati Danang Sutowijoyo selaku raja Mataram saat itu. Lagi-lagi sebagai seorang komunis yang anti feodalisme Pram sangat menyukai cerita-cerita seperti ini. Tetapi "Mangir" tetap dengan substansi cerita yang sama yaitu tentang pemberontakan, cinta, dan kematian.

Pemberontakan terjadi karena Ki Ageng Mangir menganggap Mangir lebih dahulu ada dari Mataram. Mangir adalah tanah perdikan yang diberikan oleh Majapahit, sehingga tidak pantas bagi Mangir untuk menjadi bawahan Mataram. Hal ini membuat Panembahan Senopati marah dan menganggap Ki Ageng Mangir telah makar sehingga Mangir harus di bumi hanguskan. Beberapa kali Mataram menyerang Mangir tetapi selalu tidak berhasil mengalahkan Mangir. Hal ini lantaran Ki Ageng Mangir mempunyai ahli siasat yang mumpuni yaitu Baru Kelinting serta bantuan dari beberapa orang demang yang masing-masing memiliki daerah kekuasaan yaitu Demang Patalan, Demang Jodog, Demang Pandak, dan Demang Pajangan.

Karena gagal menaklukkan Mangir, Panembahan Senopati memakai cara licik yaitu dengan menjadikan putri cantiknya yang bernama Sekar Pembayun untuk menjadi telik sandi yang bertugas memata-matai aktivitas Ki Ageng Mangir. Pembayun memulai aktivitas sebagai telik sandi dengan menyamar menjadi penari ronggeng dan mengganti nama menjadi Adisaroh. Ternyata takdir berkata lain. Berawal dari sekedar telik sandi ternyata Pembayun justru jatuh cinta dan menikah dengan Ki Ageng Mangir.

Setelah menikah, akhirnya Adisaroh mengatakan yang sesungguhnya kepada Wanabaya bahwa sebenarnya dirinya adalah Putri Sekar Pambayun anak dari Panembahan Senapati. Bukan main kesalnya Wanabaya yang ternyata selama ini telah dibohongi oleh istri tercintanya sendiri, sambil bersujud menangis Pambayun meminta maaf dan menyatakan rasa penyesalan dan bersalahnya. Apa daya Ki Ageng Wanabaya, meskipun naik pitam tak kuasa menahan amarahnya tetapi rasa cintanya pada Pembayun mengalahkan segalanya.

Saat Pembayun hamil, Panembahan Senopati pun melihat peluang. Merasa sebagai mertua, diundanglah Ki Ageng Mangir bersama istrinya sowan ke Keraton Mataram untuk mendapat restu. Singkatnya, sesampainya di Keraton Mataram bukan restu yang didapat tetapi Ki Ageng Mangir Wanabaya harus mati meregang nyawa karena ditikam tombak secara licik dari belakang oleh Joko Umbaran kakak Pembayun (versi Babad Tanah Jawi diceritakan, saat Ki Ageng Mangir sungkem di kaki Panembahan Senopati, saat itulah kepalanya dibenturkan hingga pecah ke batu gilang yang menjadi tempat duduk Senopati. Sedangkan di versi Babad Bedhahing Mangir diceritakan jika Panembahan Senopati menusukkan tombak Kyai Plered ke Wanabaya. Setelah Wanabaya meregang nyawa barulah kepala dibenturkan ke batu gilang hingga pecah). Joko Umbaran sendiri merupakan anak pertama Danang Sutowijoyo dari istri pertama (Roro Lembayung putri dari Ki Ageng Giring) yang konon katanya diumbar (tidak diurus) dampak dari perjodohan pernikahan "politik" yang dipaksakan.

Berakhirlah sudah perjalanan Perdikan Mangir di tangan Mataram, hanya tersisa Pambayun yang tengah bersedih sambil memeluk jasad suami tercinta sang Tua Perdikan Mangir Wanabaya IV. Ibarat kata Chu Pat Kai “begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir” 😂.

Bagaimana nasib Pembayun??? Penghianat!!! itulah akhirnya gelar yang disematkan pada Pembayun oleh bapaknya sendiri.


Ujung Galuh, Padukuhan Kupang Wetan
Rabu Wage, 29 November 2023M / 15 Jumadil Awal 1445H


Kamis, 23 Maret 2023

KISAH SAPI DAN WATAK "NGEYEL" BANI ISRAIL

Suatu ketika di era dakwah Nabiullah Musa alaihissalam terjadilah kasus pembunuhan seorang bani Israil. Korban adalah seorang hartawan yang kekayaannya luar biasa berlimpah tapi tidak memiliki anak sebagai ahli waris. Alhasil, banyak kerabat si korban yang menginginkan dan menanti warisan.

Singkat kisah, pertikaian pun terjadi diantara para kerabat si korban. mereka mengklaim sebagai yang berhak mendapatkan harta waris korban. semakin lama pertikaian semakin menjurus kepada saling fitnah dan saling tuduh sebagai pembunuh si korban.

Di situasi yang semakin rumit, ada salah seorang yang menengahi, “wes ojo gegeran....bukankah di antara kita ada Musa, sang Rasul Allah? Mari kita tanyakan perihal ini kepada beliau" ujarnya. Dan mereka pun berbondong-bondong segera menemui Nabiullah Musa alaihissalam.

"ya Nabiyullah Musa, salah seorang kerabat kami ada yang mati terbunuh, mintalah kepada Allah untuk menunjukkan siapa pembunuhnya" pinta Bani Israil.
Setelah mendengar curhatan dan permintaan dari orang-orang Bani Israil yang bertikai, Nabi Musa pun berdoa memohon petunjuk pada Allah agar menunjukkan rahasia di balik kematian si korban. Maka, Allah pun memerintahkan Musa agar menyuruh bani Israil menyembelih seekor sapi.

"ok.....Allah sudah memerintahkan padaku agar kalian menyembelih seekor sapi. sekarang bawalah padaku seekor sapi dan sembelihlah" perintah Nabi Musa.
Sebenarnya perintah yang sangat mudah. Akan tetapi karena watak "ngeyel" Bani Israil, mereka tidak segera melaksanakan perintah tersebut tapi justru bertanya lagi “sapinya yang berumur muda atau tua?". Nabi Musa menjawab "Tidak muda, tidak pula tua, umur pertengahan saja". Bani Israil bertanya lagi “Apa warna sapinya?”. Nabi Musa menjawab, “Warnanya kuning tua/keemasan”.
Dasar tukang "ngeyel", Bani Israil pun bertanya lagi “kira-kira bagaimana ciri-ciri kondisi sapi itu?". Nabi Musa dengan sabar pun menjawab lagi "sapi itu tak pernah digunakan untuk membajak sawah atau memberi air bagi tanaman. Sapi itu pun sangat bersih, tidak memiliki cacat”.

Akhirnya, Bani Israil menyadari kebodohan mereka. Mereka pun mencukupkan pertanyaan dan mulai mencari jenis sapi yang elok itu.

Coba bayangkan, dari perintah yang sangat mudah karena faktor "ngeyel" kebanyakan bertanya, akhirnya justru semakin sulit mendapatkan sapi itu. Andai mereka menurut saat perintah pertama, mereka bebas memilih sapi manapun.

Setelah kesulitan mencari kesana kemari, akhirnya mereka pun mendapatkan sapi dengan kriteria hasil ke-ngeyel-an mereka. itupun dengan harga yang sangat mahal. Konon harga sapi setara dengan harta waris si korban, sehingga habislah harta si korban hanya untuk membeli sapi tersebut.

Setelah sapi didapat, segeralah dibawa kehadapan Nabi Musa dan diperintahkan untuk disembelih. Setelah disembelih Nabi Musa pun memukulkan buntut sapi ke jasad si korban. Biidznillah, mayat korban pun bangun. Nabi Musa pun bertanya kepada korban siapa yang telah membunuhnya. Korban pun menjawab sambil menunjuk kepada salah seorang kerabatanya bahwa dialah pembunuhnya. Tapi dasar Bani Israil, tetap "ngeyel" tidak mengakui.

Itulah watak bani Israil. Minta petunjuk pada Allah dengan perantara Nabi Musa, sudah dapat petunjuk malah "ngeyel" membantah tidak mengakui.

eiiiiittssss.....jangan pongah dulu dengan merendahkan bani Israil. Kita pun sekarang sudah mulai terjangkit watak "ngeyelan" bani Israil. diperintahkan untuk melakukan yang mudah tapi karena ngeyel akhirnya jadi sulit. kalau istilah arek Suroboyo "dikongkon A jalukane B, C, D padahal ora mampu, suwe2 dadi ruwet. opo maneh dibumbuhi watak arep kemoncolen golek rai malah tambah ruweeeeetttttt".



Padukuhan Kupang Wetan, 1 Romadhon 1444 hijriah
Selamat berpuasa 🙏

Selasa, 17 Januari 2023

ANAK KIJANG DI KOTA BUAYA; Kisah Beberapa Bongkah Batu

            Di pojok utara lahan pekarangan rumah kami ada parit dengan lebar dan kedalaman sekitar setengah meter. Parit ini mengaliri air dari kompleks rumah kos-kosan depan rumah kami. Sedangkan disebelah parit hanya tanah kosong milik seseorang yang masih kerabat jauh Emakku. Jadi antara tanah rumah kami dan tanah kosong kerabatku terbatasi oleh parit. Karena selalu tergerus air lama kelamaan parit menjadi semakin dangkal dan menyempit sehingga dalam setahun sekali harus digali dan diperlebar kembali. Saat memperlebar parit biasanya Bapakku akan sekalian memperbaiki konstruksi pinggiran parit dengan bebatuan. Pembaca mungkin berpikir kenapa tidak di cor (dipasang batu miring atau pelengsengan dg semen agar kokoh). Jelas alasan ekonomi adalah jawabannya. Karena untuk makan saja kami sangat kesulitan.
Pada saat aku duduk di bangku kelas 3 MTs. (setara SMP) ada suatu peristiwa yang tidak akan pernah kulupakan dan akan menjadi pelajaran bahkan hingga keanak cucuku nanti.
Saat itu aku diminta bantuan oleh Bapakku untuk membantu memperbaiki parit yang sudah mendangkal dan menyempit. Seperti biasanya Bapakku terlebih dahulu akan pergi ke lokasi-lokasi bekas penambangan PT. Aneka Tambang untuk mengambil beberapa karung bebatuan bauksit. Disekitar Kijang banyak lokasi bekas penambangan Bauksit. Beberapa lokasi di reboisasi dengan ditanami pohon akasia atau pohon jambu mede/mete (jambu monyet) beberapa dibiarkan menjadi lahan kosong. Singkat cerita kami kehabisan bongkahan batu dan akupun langsung mengumpulkan beberapa bongkahan batu yang kuambil dari lahan kosong.
Awalnya Bapakku tidak mengetahui kalau aku mengambil bongkahan-bongkahan batu dari tanah sebelah. Tapi lama kelamaan beliau tahu juga. “dapat darimana batu-batunya?” Tanya Bapakku. “itu Pak ambil di tanah sebelah” jawabku sambil menunjuk ke tanah sebelah. “tidak boleh, cepat kembalikan semuanya. Yang sudah terpasang di parit bongkar juga dan kembalikan semua” perintah Bapakku dengan wajah tegas. “lhaaa Pak, kan cuma batu dan juga tanah kosong gak ada yang nempati” kelahku. “tanah ini ada yang punya, bukan haknya kita, meskipun cuma sebutir kerikil kalau kita tidak minta sama yang punya artinya kita sudah mencuri. Harus minta izin dulu sama yang punya tanah” timpal Bapakku.
Akhirnya akupun mengembalikan semua bongkahan-bongkahan batu keasalnya dan batu-batu yang sudah tertata menjadi batu miring aku bongkar kembali dengan dibantu oleh Bapakku. Sambil itu, Bapakku bercerita tentang kisah yang masyhur dikalangan para sufi. Aku sangat ingat sekali kisah ini karena Bapakku sering sekali mengulang-ulang kisah ceritanya.
Begini kisahnya,
Zaman Sultan Harun al-Rasyid, hiduplah sepasang suami-istri beserta anak-anak mereka. Mereka bukan keluarga yang mampu bahkan tergolong miskin. Sementara tetangga mereka adalah keluarga yang kaya raya.
Suami istri ini adalah seorang yang ‘abid (ahli ibadah). Suami bekerja sebagai buruh pencari kayu di hutan. Sedangkan tetangga mereka selain terkenal kaya raya tapi juga terkenal dengan kepelitannya. Meskipun punya tetangga yang miskin tapi mereka tidak pernah mau membantu.
Suatu ketika di bulan Romadlon, seperti biasa Sultan al-Rasyid mengumpulkan para mustahiq zakat (orang yang berhak mendapatkan zakat) yang terdiri dari orang-orang faqir, miskin, amil, muallaf, gharim, riqab, fiisabilillah, dan ibnu sabil. Semua mustahiq dipanggil satu persatu untuk menerima zakat. Seperti biasa juga selain zakat berupa makanan pokok, Sultan juga memberikan beberapa keping dirham kesetiap mustahiq. Rasa syukur yang tak terkira diucapkan oleh si suami ‘abid tadi. “Dirham ini kalau aku belikan pakaian tentu tidak akan cukup untuk semua keluarga, tapi jika dibelikan beberapa lembar kain maka akan cukup jika dijahit untuk semua keluargaku akan. Biarlah istriku yang akan menjahit kainnya nanti untuk menjadi baju” pikir si ‘abid.
Pulanglah si ‘abid sambil membawa hasil zakat dan beberapa potong kain. Diberikanlah kain tersebut kepada sang istri untuk dijahitkan menjadi beberapa helai baju yang cukup untuk seluruh keluarga dan akan dipakai saat ‘iedul fitri. Mulailah sang istri menjahit kain-kain tersebut.
Tidak terasa malam pun tiba, mereka baru menyadari jika di rumah mereka sudah tidak ada minyak untuk menyalakan lentera. “pak, malam semakin gulita, kita sudah tidak punya minyak untuk menyalakan lentera” ujar si istri. “coba bu ke rumah tetangga untuk meminta sedikit minyak sekedar untuk menyalakan sebuah lentera” saran si ‘abid. “baiklah pak” jawab si istri.
Pergilah si istri ke rumah tetangga yang kaya raya. Setelah bertemu si empunya rumah, segeralah diutarakan maksud si tamu. “wahai tetangga, di rumah kami sudah tidak ada satupun lentera yang menyala. Kami sudah tidak memiliki setetes pun minyak…..sudilah kiranya tuan untuk memberikan kami sedikit minyak agar terang rumah kami” iba si tamu. “cih…kamu lagi, selalu saja mengganggu istirahat malamku” hardik si empu rumah. “kalau mau banyak minyak suruh suamimu kerja, jangan cuma ibadah. Ibadah tidak akan buat kalian kenyang dan kaya raya. Malam ini tidak akan kuberikan minyak, supaya kalian belajar bahwa jadi orang miskin itu tidak enak, supaya kalian sadar untuk bekerja keras…pulanglah sana!!!” kembali si empu rumah menghardik.
Dengan wajah lesu, si tamu pun kembali ke rumah. Diceritakanlah semua kepada suaminya. Dengan sabar suaminya pun menyahut penjelasan istrinya dengan kalimat-kalimat yang membesarkan hati istrinya.
Bagaimana dengan jahitan baju kita pak? Besok sudah ‘iedul fitri” ucap si istri. “bu, coba lihat….disebelah rumah tetangga kita itu ada seberkas sinar cahaya lentera yang menyinari hingga keluar. Cobalah kau menjahit disana. Aku yakin si tetangga yang pelit itu tidak akan marah” saran si ‘abid. “iya pak, aku akan menjahit disitu pak” balas si istri. Dan si istri pun langsung menuju kesebelah rumah tetangga hanya sekedar untuk memanfaatkan seberkas sinar cahaya dari rumah tetangga yang menjorok hingga keluar rumah (kalau sekarang numpang wifi gratis tetangga….hehe). Mulailah si istri menjahit. Jahitan demi jahitan, hingga jadilah beberapa helai baju. Setelah selesai kembalilah si istri ke rumah.
Malam pun semakin larut. Lolongan anjing liar dan burung-burung malam mulai bersahut-sahutan. Manusia sudah lelap di peraduan masing-masing. Saat lelap tidur, si ‘abid bermimpi. Ia bermimpi sedang disiksa oleh Malaikat Zabaniyah (Malaikat yang menjadi algojo di Neraka) bersama istrinya didalam neraka. Di neraka itu ada pula si tetangga. Sambil menyiksa, Zabaniyah sambil berucap “inilah ganjaranmu wahai pencuri”, terus saja kalimat itu berulang-ulang diucapkannya.
Diseberang, si tetangga juga sedang bermimpi, bermimpi dengan tema yang sama yaitu sedang disiksa di neraka dan dalam mimpinya ia juga melihat tetangganya sedang disiksa bersamanya di neraka. Sambil menyiksa, Zabaniyah sambil berucap “inilah ganjaranmu wahai orang kaya yang pelit”, terus saja kalimat itu berulang-ulang diucapkannya.
Setelah semakin berat siksaannya tiba-tiba si ‘abid dan si tetangga sontak terbangun dari tidurnya dengan terengah-engah dan keringat bercucuran karena rasa takut.
Keesokan paginya, pergilah mereka berdua kepada seorang ulama yang masyhur dengan sifat wara’ dan sudah mencapai maqom mukasyafah. Berceritalah mereka berdua perihal mimpi yang dialaminya. Setelah mendengar cerita mereka berdua, si ulama pun menjelaskan bahwa kesalahan si ‘abid dan istri karena telah mencuri hak milik tetangga tanpa izin meskipun itu hanya seberkas sinar lentera. Sedangkan kesalahan si tetangga karena tidak memberikan hak tetangganya yang miskin. Ajaran Islam bagi tetangga yang kaya adalah berkewajiban membantu tetangganya yang miskin. Islam mengutuk tetangga yang perutnya selalu kekenyangan sementara tetangga sebelah rumahnya sangat kelaparan meskipun ia seorang yang taat beribadah. Ada hak dan kewajiban yang telah diatur oleh Islam dalam hidup bertetangga.
Akhirnya, setelah mendapat penjelasan dari ulama tersebut, kedua orang bertetangga itupun saling menyadari kesalahan masing-masing dan keduanya kembali hidup rukun saling membantu.
Selesai bercerita, Bapakku menegaskan dan menasehatiku untuk jangan pernah mengambil hak milik orang lain tanpa izin meskipun cuma sebutir batu atau secercah sinar. Hak milik orang lain juga bukan cuma berupa barang yang telihat oleh mata. Tetapi yang tidak terlihat oleh mata juga tidak boleh kita renggut. Rasa bahagia, rasa aman, rasa damai, rasa berkasih sayang itu hak miliki setiap orang yang tidak boleh kita ganggu apalagi kita rampas. Saat itu Bapakku memberikan contoh, andai ada tetangga yang sedang berbahagia mengadakan resepsi pernikahan, janganlah kita rusak dengan cerita-cerita gosip dari lisan kita yang menjelek-jelekkan acara tersebut sehingga tetangga kita menjadi merasa risih, merasa susah dan gundah. Ada tetangga kita yang sedang bahagia punya sepeda motor baru meskipun secara kredit, jangan lisan kita mencemooh sehingga tetangga kita menjadi malu. Jika ini dilakukan berarti kita sudah mencuri hak tetangga kita.
Itulah Bapakku, orang yang berani hidup miskin daripada harus mencuri. Bapakku bekerja sebagai pegawai tetap di PT. Aneka Tambang Wilayah Kijang-Bintan Timur salah satu BUMN yang khusus menambang tanah Bauksit. Terakhir jabatan beliau adalah Pengawas Lapangan. Tugas Pengawas Lapangan adalah mengawasi proses penggalian tanah bauksit di lokasi penambangan, juga mengawasi sarana dan prasarana produksi. Termasuk sarana prasarana disini adalah kendaraan dinas beserta BBM (Bahan Bakar Minyak)-nya.
Lokasi penambangan biasanya di pulau-pulau kecil sekitar Bintan dan ditengah hutan. Kendaraan produksi berupa truk tambang Komatsu yang ukuran ban-nya lebih dari 2 meter. Kendaraan-kendaraan ini tentu membutuhkan BBM yang tidak sedikit sehingga disetiap lokasi tambang sudah disediakan tangki-tangki BBM jenis solar dengan model tandong tabung ukuran diameter lebih dari 2 meter.
Sebagai Pengawas Lapangan, sangat bisa bagi Bapakku untuk korupsi BBM. Jika saat itu Bapakku berani membawa pulang satu jerigen solar aja tiap hari untuk dijual ke juragan-juragan ikan atau juragan pemilik perahu motor seperti yang dilakukan oleh rekan-rekan beliau tentu keluarga kami akan kaya raya.
Itulah Bapakku Muhammad Yasin bin Yahya, seorang sufi “ortodok” yang sepanjang hidupnya tetap setia menjaga muru’ah seorang sufi hingga akhir hayat beliau.


Padukuhan Kupang Wetan,
24 Jumadil Akhir 1444h
17 Januari 2023

Senin, 14 November 2022

“SURGA DUNIA” BUATAN MANUSIA BAGI TIKUS

Jika ditanya, apakah ada suatu tempat yang terbebas dari rasa lapar, rasa takut, dan rasa lelah. Tempat yang penuh kenikmatan tanpa ada rasa gundah gulana, tanpa ada rasa permusuhan dan dendam kesumat. Tempat dimana manusia tidak perlu lagi khawatir pada makanan, tempat tinggal, pendidikan, atau pekerjaan, sebab semua yang kita perlukan untuk hidup sudah tersedia kapan saja. Tempat dimana tidak ada lagi para jomblo kesepian yang harus takut tidak bisa menikah. Sebab kenikmatan seks bisa dinikmati kapanpun, dengan siapapun, berapa kalipun, bebas. Ingin memiliki anak atau tidak memiliki anak, bebas. Bahkan, manusia tidak perlu lagi beribadah karena takut pada Tuhan. 

Pasti semua sepakat menjawab “SURGA”. Tapi apa mungkin ada surga dunia??? Pertanyaan inilah yang akan dijawab oleh seorang peneliti bernama Prof. John Calhoun. Melalui penelitiannya, Calhoun mencoba menciptakan “surga dunia” yang diujicobakan pada sekelompok tikus. Penelitian tersebut dimulai sejak tahun 1954 sampai dengan 1972 dan di kemudian hari dikenal dengan nama eksperimen Universe 25. 

Melalui eksperimennya, Coulhon ingin mempelajari apa yang terjadi jika makhluk hidup dikasih suplai makanan dan minuman tanpa batas di ruang tertutup dan ruang yang terbatas yang sudah dikondisikan. Jadi di kandang tersebut makanan dan minuman tinggal ambil dan tidak terbatas. Ada tempat bersarangnya juga dan kandang tersebut dibuat untuk dapat menampung sampai dengan 3000 tikus. Suhu di kandang juga diatur agar tikus-tikus didalamnya dapat terus merasa nyaman dan aman dari predator. Dengan situasi ini kandang tersebut dapatlah jika disebut sebagai “surga tikus”. Bagaimana tidak, di surga” ini para tikus dapat makan minum yang tinggal ambil, tidak lagi beresiko kena perangkap seperti di dunia luar. Dan yang lebih nyaman lagi, di surga tikus pasangan sudah tersedia dan sama sekali tidak ada predator jadi mereka bisa hidup dengan damai. Aktifitasnya ya cuma makan-kawin-tidur-makan-kawin-tidur…..hehehehe. 

Eksperimen dimulai dengan menaruh empat pasang tikus di dalam kandang. Empat jantan dan Empat betina. Sebelum di masukkan kedalam kandang, tikus-tikus sudah dibersihkan sampai steril, agar tidak ada kuman yang menempel di badan tikus. Setelah didalam kandang, tikus-tikus hidup bahagia karena semua kebutuhan tikus sudah terjamin termasuk pemenuhan hasrat berkembang biak. Populasi jumlah tikus semakin hari bertambah dengan cepat. Pergerakan penambahan jumlah tikus bisa dlihat dari grafik berikut.

Dari grafik tersebut terlihat dimana pada awalnya hanya empat pasang tikus bertambah dengan cepat hingga pada hari ke 560 bertambah menjadi 2200 ekor. Akan tetapi setelah sampai 2200 ekor bisa kita lihat populasi mulai kembali turun. Padahal kandang “surga” didesain dapat memuat hingga 3000 ekor tikus. Tetapi ternyata mentoknya di 2200 ekor.  

Calhoun mencatat proses naik turunnya grafik penambahan populasi tikus tersebut dibagi menjadi empat periode. Periode pertama disebut dengan periode penyesuaian diri. Ini terjadi sejak empat pasang tikus dimasukkan kedalam kandang sampai 100 hari kemudian. Di periode ini jumlah populasinya menanjak tapi belum terlalu signifikan. Periode kedua disebut dengan periode eksploitasi dan terjadi di 250 hari setelahnya. Di periode ini, setiap 60 hari jumlah populasi tikus selalu bertambah dua kali lipat. Di periode ini penggunaan sumber makanan dan minuman terpantau tidak merata, ada tempat makan yang ramai dikerumuni tikus tapi ada juga tempat makan yang sepi dari tikus. Padahal tempat makan dan minum sudah dibagi sama rata disetiap sisi kandang. Dan di periode kedua ini, tikus-tikus sudah mulai hidup berkelompok. Mereka kemana-mana selalu bersama kelompoknya dan mereka sama sekali tidak percaya kepada tikus lain diluar kelompoknya (sudah mirip seperti manusia saat ini).  

Di dalam kandang sudah ada beberapa kelompok tikus, ada kelompok tikus good looking (selalu terlihat bersih), ada kelompok tikus jelek, ada kelompok kuat, ada kelompok tikus lemah. Jumlah anggota kelompok juga beragam, ada yang anggotanya banyak dan ada kelompok tikus yang anggotanya sedikit. Inilah kenapa akhirnya tempat makan juga ada yang ramai dan ada yang sepi tergantung kelompok mana yang mendekati dan menguasai tempat makan itu. 

Periode ketiga terjadi di 300 hari berikutnya dan disebut dengan periode equilibrium. Di periode ini John Calhoun menyadari jika pertumbuhan tikus-tikus jadi melambat tidak seperti kedua periode sebelumnya. Menurut Calhoun, ada beberapa penyebabnya seperti ditemukan beberapa perilaku tikus yang tidak wajar. Perilaku kekerasan semakin sering terjadi didalam kandang. Kelompok tikus yang kuat semakin sering menindas kelompok tikus yang lemah. Sudah pasti alasannya bukan karena rebutan makanan karena didalam kandang sudah tersedia makanan yang melimpah. Menurut Calhoun, kemungkinan besar penyebab penyerangan terjadi hanya karena berbeda kelompok saja dan tanpa alasan yang jelas. Alhasil, kelompok tikus yang lemah sering berkumpul tetapi malah sering menyerang sesama tikus bahkan beberapa tikus jadi target rutin “bully” tikus lainnya. Tikus-tikus korban bully bisa dilihat dari banyaknya bekas gigitan di badan dan ekor mereka dan mereka membentuk kelompok sendiri. Dengan kata lain, diantara tikus lemah mencari lagi siapa yang terlemah dan akan dijadikan pelampiasan. 

Selain itu, ada juga kelompok tikus-tikus muda yang yang perilakunya aneh dan perilaku mereka ini tidak ditemukan di orang tua mereka dan tidak ditemui di generasi sebelum mereka. John Calhoun menamakan tikus-tikus muda ini dengan the beautiful ones. Kehidupan kelompok the beautiful ones ini cuma dihabiskan untuk makan, tidur dan merawat diri.  Mereka tidak pernah berinteraksi dengan tikus lain, tidak pernah melakukan aktifitas dewasa, dan bersikap antisosial. Akan tetapi,  meskipun tikus-tikus the beautiful ones ini terlihat cantik, bersih dan sehat, kelompok ini cenderung lebih bodoh dari tikus-tikus lainnya. sudah kebayangkan bagaimana perilaku tikus-tikus tersebut sudah ada kemiripan dengan kelompok-kelompok manusia saat ini!!. 

Periode terakhir (keempat) disebut dengan periode kematian. Di periode ini tikus mulai menuju kepunahan. meskipun kandang didesain dapat nampung sampai lebih dari 3000 ekor tikus tapi ternyata populasinya mentok di 2200 ekor dan mulai menurun. Di periode ini masing-masing tikus mulai tidak peduli dengan tikus tikus lainnya bahkan sudah mulai semakin bersikap antisosial. John Calhoun menyimpulkan kalau tikus-tikus ini tidak bisa berinteraksi berulang-ulang dengan begitu banyak tikus tetapi hanya tikus-tikus itu saja. Bayangkan saja, dalam kandang seukuran tersebut yang isinya 2200 ekor tikus kemungkinan bertemu sesama tikus sangat besar sehingga kekerasan akan semakin meningkat. Karena tikus-tikus yang tua semakin suka main serang akhirnya semakin sedikit tikus muda yang bisa bertahan hidup sampai dewasa.  

Karena antar tikus sudah saling curiga dan suka menyerang, tikus betina menjadi bersikap menjauh jika didekati tikus jantan. Kalaupun ada yang berhasil berkembang biak, biasanya bayi-bayinya akan ditinggal oleh induknya. Alhasil bayi-bayi tikus ini akan mati kelaparan atau mati diserang oleh tikus dewasa. Dan tragisnya, karena tikus betina tidak bisa didekati, akhirnya tikus-tikus jantan banyak yang menjadi pelaku suka sesama jenis. Karena banyak kasus-kasus yang terjadi setelah populasi tikus membludak akhirnya tikus-tikus pun menuju kepunahan. 

Eksperimen tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dilakukan beberapa kali. Periode pertama dilakukan pada tahun 1958 - 1962, periode kedua dari tahun 1968 - 1972. Berarti penelitian dilakukan oleh John Calhoun selama delapan tahun eksperimen. Tentu ini bukan waktu eksperimen yang sebentar. Selama delapan tahun, telah ada 25 eksperimen yang dilakukan. Garis besar eksperimennya hampir sama, hanya ada modifikasi sedikit atau jenis tikus yang diganti. Tetapi ending-nya selalu sama tikus-tikus berakhir dengan kepunahan. Akhirnya eksperimen ini diberi nama oleh Calhoun dengan Universe 25 atau the behavioural sink (wastafel perilaku). 

Penamaan wastafel karena perumpamaannya adalah berapun banyaknya air yang dituang ke wastafel pasti semua air akan masuk kedalam lobang sampai habis. Demikian juga dengan Behavioral sink, meskipun dikandang sudah terpenuhi semua kebutuhan tetapi tetap sama berujung pada kepunahan. Berarti kepunahan terjadi bukan karena kebutuhan tapi karena perilaku tikus-tikusnya sendiri yg membuat mereka “masuk lobang kepunahan. 

Setelah hasil dari eksperimen dirilis ke publik, ternyata menjadi kontroversi ada yang mendukung serta berterima kasih tetapi ada juga yang mengecam dan ada juga yang khawatir dan resah. Kelompok masyarakat yang merasa khawatir menganggap bahwa perilaku tikus selama dalam kandang “surga” serupa dengan perilaku manusia. Jadi mereka khawatir nantinya manusia juga akan punah gara-gara perilaku mereka sendiri bukan gara-gara bencana alam, mateor dan sebagainya. 

Sedangkan kelompok masyarakat yang mendukung dan berterima kasih karena dari eksperimen universe 25 dapat dilakukan eksperimen-eksperimen lain dengan tujuannya untuk mencegah manusia agar tidak masuk kedalam wastafel perilaku. Salah satunya adalah adanya penelitian tentang desain kota yang ternyata juga bisa berpengaruh terhadap penurunan perilaku negatif. Ada juga penelitian kesehatan mental yang mengkaji sisi hubungan antar manusia dan lain-lain. Dalam National Institute of Health, Jonathan Freedman seorang ilmuan psikologi menyatakan bahwa eksperimen yang dilakukan oleh John Calhoun mengajarkan bahwa kepadatan tidak hanya tentang jumlah orang tapi juga tentang interaksi derajat sosial.  

Kelompok yang mengecam hasil eksperimen mengatakan bahwa John Calhoun sudah melakukan “playing God atau sudah bermain sebagai Tuhan ke tikus-tikus dengan seolah-olah menciptakan surga dengan memberikan kenikmatan, akan tetapi setelah kondisi berubah menjadi neraka Calhoun justru membiarkan hingga akhirnya tikus-tikus ini punah.  

Meskipun penelitian ini menggunakan binatang, temuan tentang pertumbuhan populasi dan perilaku individu tikus menjadi perbandingan dekat dengan perilaku manusia. Kandang “surga” tikus universe 25 ibaratnya adalah dunia ini yang awalnya penuh dengan kenikmatan. Hanya sepasang manusia yang hidup di dunia ini yaitu Adam dan Hawa. Akhirnya berkembang dan berperilaku seperti perilaku tikus. Saling serang, saling jajah. Semua negara sudah mempunyai sumberdaya alam sendiri tetapi kenapa masih saja menjajah negara lain. Negara yang superpower saling berperang dengan alasan yang tidak jelas. 

Banyak peneliti yakin bahwa manusia sudah mencapai titik krusial di fase eksploitasi. Titik dimana keputusan penting harus dibuat dan dilaksanakan secara hati-hati jika manusia ingin bertahan hidup. 

Penulis akhiri tulisan ini justru dengan pikiran liar atas teori evolusinya Darwin. Menurut Darwin manusia adalah hasil perkembangan evolusi dari monyet. Agar tidak punah maka manusia harus berevolusi. Pertanyaannya adalah apakah kita akan berevolusi lagi semisal tumbuh tanduk di kepala atau tumbuh ekor dibelakang….ah entahlah!!!

Syekh Jabarantas
Situbondo, 12 November 2022 

Sabtu, 19 Juni 2021

ANAK KIJANG DI KOTA BUAYA; Bagian Kedua - "Anak Kijang"

Orang 1    :  “Woi….anak Kijang…nak kemane?”

Orang 2    : “takdee…..”


Dialog tersebut hampir terdengar setiap hari baik antara orang dewasa, remaja, maupun anak-anak. Dan selalu jawabnya adalah “takde” yang berarti tidak ada. Terus terang sampai sekarang pun aku tidak pernah memahami apa maksud dari jawaban “takde”. Jadi jangan kaget jika suatu saat pembaca menginjakkan kaki di bumi Bintan dan ada orang bertanya “nak kemane pak/bu/kak/bang/dek/nak” selalu dijawab “takde”.

Kenapa pula “Anak Kijang”???

“Anak Kijang” adalah nama panggilan secara umum yang disematkan kepada warga usia anak-anak hingga remaja yang berdomisili Kijang. Terkadang digunakan juga istilah “Budak Kijang”. Kata “Budak” diambil dari bahasa Melayu yang bermakna “Anak”. Sedangkan untuk kalangan warga dewasa dipanggil dengan sebutan “Orang Kijang”. Begitu juga sebaliknya, jika Anak Kijang memanggil orang diluar Kijang akan menyebutkan nama daerahnya seperti “Anak/Budak Pinang” (berdomisili di Kota Tanjung Pinang), “Anak/Budak Uban” (berdomisili di Kelurahan Tanjung Uban), “Anak/Budak Berakit (berdomisili di Desa Berakit), anak/budak Tenggel (berdomisili di Pulang Tenggel) dan lainnya.

Kijang adalah nama salah satu daerah di Kabupaten Bintan setingkat Kelurahan dengan strata administratif di bawah Kecamatan Bintan Timur salah satu dari sepuluh kecamatan di Kabupaten Bintan. Jangan pernah mengimajinasikan jika di Kijang ini banyak berkeliaran binatang kijang atau rusa atau menjangan. Atau membayangkan jika nama Kijang diambil dari nama khas binatang endemic dari daerah ini yaitu hewan kijang. Karena semua itu salah. Tidak ada hewan endemic kijang di Kijang bahkan tidak pernah tercatat di buku-buku sekolah dan pitutur para tetua tentang keberadan hewan kijang di Kijang. Tidak di kota, di kampung-kampung maupun di hutan. Jadi, nama Kijang sangat unik karena hingga saat ini tidak ada seorangpun yang mengetahui dan bisa menjelaskan alasan historis yang logis dan sahih tentang penggunaan nama hewan kijang untuk Keluarahan Kijang. Satu-satunya hewan di Kijang yang masih ada dan digolongkan dalam marga Tragulus (Bahasa Latin; kambing kecil) yang masih berkerabat dengan Kijang dan Rusa adalah pelanduk atau kancil. Hewan yang terkenal dalam hikayat-hikayat melayu dengan kecerdikan dan kebijaksanaannya.

Beberapa ilmuan sejarah di Kepri membuat kesimpulan bahwa nama Kijang diambil dari hewan kancil/pelanduk ini. Dimana hewan ini masih jenis kerabat dari Kijang dan Rusa. Dan secara historis Kerajaan Malaka (saat ini masuk wilayah Malaysia) menggunakan Pelanduk/Kancil Putih sebagai lambang kerajaan. Dan secara historis pula Kerajaan Malaka dahulu masuk dalam wilayah Kerajaan Riau termasuk juga Temasek (saat ini menjadi Singapura). Tetapi alasan tersebut belum final hingga saat ini karena masih menjadi perdebatan ilmiah dikalangan ahli sejarah di Kepri.

Waktu kecilku dahulu Bapakku sering membawa pelanduk yang beliau beli dari hasil jeratan warga tempatan di pulau tempat beliau bekerja. Jika pelanduk dalam kondisi sehat akan kami masukkan kandang untuk dipelihara dan nantinya jika sudah bosan akan kami potong. Jika pelanduk sudah dalam kondisi tidak sehat (biasanya karena terluka) akan langsung di potong. Jadi sebenarnya nasib si pelanduk baik sehat atau sakit sama saja, sama-sama di hujung pisau.

Ada pengalaman yang menarik dan cukup merepotkan gara-gara nama Kijang. Di Sertifikat Akta Kelahiranku tertulis keterangan lahir di Kijang. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa untuk keterangan kelahiran seharusnya tertulis nama Daerah Tingkat II atau Kabupaten/Kota, seperti istri dan kedua anakku karena lahir di Surabaya maka tercatat keterangan lahir di Surabaya. Sehingga aku selalu kesulitan untuk pengisian beberapa form biodata karena di option pilihan daerah yang dimunculkan adalah nama-nama Kabupaten/Kota bukan nama Kecamatan apalagi Kelurahan.

what’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi) kata William Shakespeare. Karena ikut alasan eyang Shakespeare inilah maka aku mengganti nama Kijang pada kolom tempat lahir di KTP dan Kartu Keluarga serta kartu-kartu lainnya menjadi Kepulauan Riau. Nama boleh berganti tetapi kenangan tidak akan hilang.

Apa kabar kalian budak Kijang??? kaifa haalukum..... ngopi yuuk....!!!



Surabaya, Padukuhan Kupang Wetan – 19 Juni 2021; 03:30 dini hari

Jumat, 18 Juni 2021

ANAK KIJANG DI KOTA BUAYA; Bagian Kesatu - Bintan; Bumi “Segantang Lada”

 Namaku Wahsun, aku lahir pada tanggal sebelas bulan Juni tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh sembilan di sebuah pulau terbesar diantara gugusan pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau. Pulau Bintan itulah namanya. Pulau yang kental dengan adat istiadat asli nusantara, pulau yang bahasa ibu-nya menjadi pondasi bahasa nasional rakyat Indonesia. Yaaa….inilah pulau Bintan, tanah bertuah tempat Hang Tuah berguru menuntut ilmu, bumi pujangga, bumi gurindam, bumi romantis dimana seorang sultan menghadiahkan sebuah pulau untuk permaisurinya yang terkenal dengan pulau Penyengat, bumi segantang lada……tanah Melayu…!!!
Kabupaten Bintan sebelumnya merupakan Kabupaten Kepulauan Riau. Kabupaten Kepulauan Riau (berikutnya akan saya tuliskan dengan singkatan “Kepri”) telah dikenal beberapa abad yang silam tidak hanya di nusantara tetapi juga di manca negara. Wilayahnya mempunyai ciri khas terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang tersebar di Laut Cina Selatan, karena itulah julukan kepulauan “Segantang Lada” sangat tepat untuk menggambarkan betapa banyaknya pulau-pulau yang ada di Kepri ini.
“Segantang lada” tidak hanya menggambarkan banyaknya pulau-pulau di Kepri tetapi juga menggambarkan kondisi multi etnis, multi budaya dan multi agama di pulau ini. Pulau kecil yang harmonis dimana berkumpul ragam suku seperti Melayu sebagai suku asli Kepri, Bugis yang menjadi bagian historis yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah Kepri, Batak, Buton, Jawa, Bawean, Madura, Mandar, Cina, dan suku-suku lainnya. Kesemua suku membawa dan memperkenalkan budaya dan adat istiadat sukunya masing-masing tanpa pernah terjadi “gesekan” apalagi perang antar suku. Enam agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan Aliran Kepercayaan pemeluknya bebas menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing tanpa pernah terjadi konflik agama/kepercayaan. Pada masa kelam tahun 1998 saat di Jakarta terjadi penjarahan dan pelecehan terhadap etnis Cina, di Kepri etnis Cina masih bisa ngopi satu meja dengan etnis lain. Kok bisa??? yaa….karena ada suatu budaya di Kepri yaitu “semua bisa diselesaikan di kedai kopi dan sambil nyeruput secangkir kopi tentunya”. Karena kedai kopi jugalah penjualan koran tidak pernah laku karena di kedai kopilah pusat penyebaran informasi (entahlah kalau sekarang…..!).
Untuk lebih mengenalkan Bintan, akan saya tulis ulang alias copas sejarah Kabupaten Bintan yang saya ambil dari website resmi Pemerintah Kabupaten Bintan di https://bintankab.go.id/sejarah.
Pada kurun waktu 1722-1911, terdapat dua Kerajaan Melayu yang berkuasa dan berdaulat yaitu Kerajaan Riau Lingga yang pusat kerajaannya di Daik dan Kerajaan Melayu Riau di Pulau Bintan.
Jauh sebelum ditandatanganinya Treaty of London, kedua Kerajaan Melayu tersebut dilebur menjadi satu sehingga menjadi semakin kuat. Wilayah kekuasaannya pun tidak hanya terbatas di Kepulauan Riau saja, tetapi telah meliputi daerah Johor dan Malaka (Malaysia), Singapura dan sebagian kecil wilayah Indragiri Hilir. Pusat kerajaannya terletak di Pulau Penyengat dan menjadi terkenal di Nusantara dan kawasan Semenanjung Malaka.
Setelah Sultan Riau meninggal pada tahun 1911, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan amir-amirnya sebagai Districh Thoarden untuk daerah yang besar dan Onder Districh Thoarden untuk daerah yang agak kecil.
Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyatukan wilayah Riau Lingga dengan Indragiri untuk dijadikan sebuah keresidenan yang dibagi menjadi dua Afdelling yaitu;
1.        Afdelling Tanjungpinang yang meliputi Kepulauan Riau–Lingga, Indragiri Hilir dan Kateman yang berkedudukan di Tanjungpinang dan sebagai penguasa ditunjuk seorang Residen.
2.        Afdelling Indragiri yang berkedudukan di Rengat dan diperintah oleh Asisten Residen (dibawah) perintah Residen. Pada 1940 Keresidenan ini dijadikan Residente Riau dengan dicantumkan Afdelling Bengkalis (Sumatera Timur) dan sebelum tahun 1945–1949 berdasarkan Besluit Gubernur General Hindia Belanda tanggal 17 Juli 1947 No. 9 dibentuk daerah Zelf Bestur (daerah Riau).
            Berdasarkan surat Keputusan delegasi Republik Indonesia, Provinsi Sumatera Tengah tanggal 18 Mei 1950 No.9/Deprt. menggabungkan diri ke dalam Republik Indonesia dan Kepulauan Riau diberi status daerah Otonom Tingkat II yang dikepalai oleh Bupati sebagai kepala daerah dengan membawahi empat kewedanan sebagai berikut:
1.    Kewedanan Tanjungpinang meliputi wilayah kecamatan Bintan Selatan (termasuk kecamatan Bintan Timur, Galang, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur sekarang).
2.    Kewedanan Karimun meliputi wila-yah Kecamatan Karimun, Kundur dan Moro.
3.    Kewedanan Lingga meliputi wilayah Kecamatan Lingga, Singkep dan Senayang.
4.    Kewedanan Pulau Tujuh meliputi wilayah Kecamatan Jemaja, Siantan, Midai, Serasan, Tambelan, Bunguran Barat dan Bunguran Timur.
Kemudian berdasarkan Surat Keputusan No. 26/K/1965 dengan mem-pedomani Instruksi Gubernur Riau tanggal 10 Februari 1964 No. 524/A/1964 dan Instruksi No. 16/V/1964 dan Surat Keputusan Gubernur Riau tanggal 9 Agustus 1964 No. UP/ 247/5/1965, tanggal 15 Nopember 1965 No. UP/256 /5/1965 menetapkan terhitung mulai 1 Januari 1966 semua daerah Administratif kewedanaan dalam Kabupaten Kepulauan Riau di hapuskan.
Pada tahun 1983, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 31 tahun 1983, telah dibentuk Kota Administratif Tanjungpinang yang membawahi 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Tanjungpinang Barat dan Kecamatan Tanjungpinang Timur, dan pada tahun yang sama sesuai dengan peraturan pemerintah No. 34 tahun 1983 telah pula dibentuk Kotamadya Batam. Dengan adanya pengembangan wilayah tersebut, maka Batam tidak lagi menjadi bagian Kabupaten Kepulauan Riau.
Berdasarkan Undang-Undang No. 53 tahun 1999 dan UU No. 13 tahun 2000, Kabupaten Kepulauan Riau dimekarkan menjadi 3 kabupaten yang terdiri dari: Kabupaten Kepulauan Riau, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Natuna. Wilayah kabupaten Kepulauan Riau hanya meliputi 9 kecamatan, yaitu : Singkep, Lingga, Senayang, Teluk Bintan, Bintan Utara, Bintan Timur, Tambelan, Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Timur. Kecamatan Teluk Bintan merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Galang. Sebahagian wilayah Galang dicakup oleh Kota Batam. Kecamatan Teluk Bintan terdiri dari 5 desa yaitu Pangkil, Pengujan, Penaga, Tembeling dan Bintan Buyu.
Kemudian dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 5 tahun 2001, Kota Administratif Tanjungpinang berubah menjadi Kota Tanjungpinang yang statusnya sama dengan kabupaten. Sejalan dengan perubahan administrasi wilayah pada akhir tahun 2003, maka dilakukan pemekaran kecamatan yaitu Kecamatan Bintan Utara menjadi Kecamatan Teluk Sebong dan Bintan Utara. Kecamatan Lingga menjadi Kecamatan Lingga Utara dan Lingga. Pada akhir tahun 2003 dibentuk Kabupaten Lingga sesuai dengan UU No. 31/2003, maka dengan demikian wilayah Kabupaten Kepulauan Riau meliputi enam Kecamatan yaitu Bintan Utara, Bintan Timur, Teluk Bintan, Gunung Kijang, Teluk Sebong dan Tambelan. Dan berdasarkan PP No. 5 Tahun 2006 tanggal 23 Februari 2006, Kabupaten Kepulauan Riau berubah nama menjadi Kabupaten Bintan. 
Begitulah sekilas tentang Bintan si “Bumi Segantang Lada”, bumi bertuah penuh berkah dengan motto “Tak Berganjak; Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing” yang bermakna mengandung makna kebesaran jiwa, kemuliaan dan semangat yang tak tergoyahkan serta semangat kebersamaan untuk membangun.
 
Surabaya, Padukuhan Pakis Wetan, 18 Juni 2021; 16:45 WIB
 

Senin, 05 April 2021

MIRIS!!! TINGKAT KEBERADABAN INDONESIA TERENDAH SE-ASIA TENGGARA

Microsoft pada bulan Februari 2021 yang lalu baru saja merilis hasil survei mereka yang diberi judul Digital Civility Index (DCI) atau Indeks Keberadaban Digital yaitu survei terkait tingkat keberadaban pengguna internet atau netizen sepanjang tahun 2020. Miris!!! Hasil survei sangat memprihatinkan dimana tingkat keberadaban (civility) netizen Indonesia sangat rendah bahkan terendah se-Asia Tenggara. Untuk peringkat dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-29 dari 32 negara. Belanda berada pada peringkat teratas untuk level dunia (DCI=51;Rank=1) dan Singapura peringkat teratas untuk Asia Tenggara (DCI=59;Rank=4).
Skor Indonesia memang naik delapan poin, dari 67 pada tahun 2019 menjadi 76 pada tahun 2020, tetapi Indonesia tetap menjadi negara dengan warga netizen paling tidak beradab di Asia Tenggara. Miris!!! Apalagi Indonesia adalah negara dengan falsafah dasarnya Pancasila dan negara yang berketuhanan, seharusnya lebih bisa menunjukkan perilaku yang beradab dan berahlaqul karimah.
Definisi istilah keberadaban atau civility dalam laporan DCI Microsoft yaitu terkait dengan perilaku berselancar di dunia maya dan aplikasi media sosial, termasuk risiko terjadinya penyebarluasan berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian atau hate speech, diskriminasi, misogini (kebencian terhadap perempuan), cyberbullying, trolling atau tindakan sengaja untuk memancing kemarahan, micro-aggression atau tindakan pelecehan terhadap kelompok marginal (kelompok etnis atau agama tertentu, perempuan, kelompok difabel, kelompok LGBTQ dan lainnya) hingga ke penipuan, doxing atau mengumpulkan data pribadi untuk disebarluaskan di dunia maya guna mengganggu atau merusak reputasi seseorang, hingga rekrutmen kegiatan radikal dan teror, serta pornografi.
Survei DCI dilakukan oleh Microsoft antara bulan April hingga Mei tahun 2020 dengan jumlah responden sebanyak 16.000 orang di 32 negara yaitu Argentina, Brazil, Kanada, Chili, Kolombia, Meksiko, Peru, Amerika Serikat, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Hungaria, Irlandia, Itali, Belanda, Polandia, Rusia, Spanyol, Swedia, Britania Raya, Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam, Afrika Selatan, dan Turki.
Hasil survei diperoleh data sebanyak 47% responden pernah terlibat dalam perilaku bullying di dunia maya (cyberbullying), 19% bahkan mengatakan pernah menjadi korban bullying. Kelompok usia yang paling terpapar cyberbullying adalah generasi Z yaitu generasi usia yang lahir antara tahun 1997-2010 (47%), kelompok milenial atau yang lahir antara tahun 1981-1996 (54%), generasi X atau yang lahir antara tahun 1965-1980 (39%) dan kelompok baby-boomers atau yang lahir antara tahun 1945-1964 (18%).


Yang lebih membuat miris lagi, netizen yang dinilai ikut mendorong anjloknya tingkat keberadaban adalah orang dewasa atau yang berusia di atas 18 tahun, skornya mencapai +16. Kelompok usia yang seharusnya bisa memberikan contoh perilaku baik malah sebaliknya menjadi pendukung perilaku ketidakberadaban. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai lebih dari 202 juta orang atau lebih dari 73 persen total penduduk, poin +16 ini tentu mencemaskan.


Hasil survei juga memperoleh data harapan besar responden netizen akan adanya instansi/lembaga yang turut serta memperbaiki tingkat keberadaban lewat berbagai hal, yaitu 59% dari unsur perusahaan media sosial. Nilai itu setara dengan yang berharap agar media ikut memainkan peran yaitu 54%. Sementara yang berharap pemulihan dilakukan oleh pemerintah mencapai 48%, oleh institusi pendidikan 46%, dan oleh institusi keagamaan 41%.
Paska Microsoft mempublikasikan hasil survei DCI-nya, apa yang dilakukan oleh netizen Indonesia? Miris!!! Bukan instrospeksi diri, tetapi malah “menyerang” akun Instagram Microsoft dengan komentar-komentar bernada negatif yang justru malah membenarkan label “tidak sopan” hasil DCI (berita dapat dibaca di https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210301072208-185-611992/microsoft-masih-tutup-komentar-ig-soal-netizen-ri-tak-sopan).
Semoga 46% dan 41% benar-benar menjadi data yang bisa membuka mata Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama Republik Indonesia bahwa perbaikan ahlaq menjadi suatu hal yang dibutuhkan sangat mendesak di NKRI kita yang tercintai ini. perbaikan kurikulum penting tapi perbaikan ahlaq sangat lebih penting. Ingatlah maqolah (quote) dari Abdullah Ibnu Mubarok seorang ulama sufi dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari nahnu ila qolilin minal adab, ahwaju minna ila katsiirin minal ‘ilmi” (kita lebih membutuhkan adab meskipun sedikit dibanding ilmu meskipun banyak).