Tampilkan postingan dengan label MEDIA PEMBELAJARAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEDIA PEMBELAJARAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Desember 2021

BIG BOOK UNTUK PEMBELAJARAN LITERASI KELAS AWAL

 


Wahsun (Pengembang Teknologi Pembelajaran di LPMP Provinsi Jawa Timur)
 
Salah satu komponen penting dalam pembelajaran adalah media. Media pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar dan berfungsi untuk memperjelas makna pesan yang disampaikan, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik dan sempurna (Kustandi & Sutjipto, 2016). Media pembelajaran sangat membantu guru dan siswa dalam optimalisasi proses belajar dan mengajar. Media pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep dari materi yang dipelajarinya (Abidin, 2015:255). Akan tetapi, hal tersebut dapat tercapai jika guru menggunakan media pembelajaran yang tepat dan sesuai kebutuhan siswa dalam pembelajaran.

Salah satu pembelajaran yang membutuhkan penggunaan media secara optimal adalah literasi. Mengingat tingkat kompetensi literasi siswa di Indonesi menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada di 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Tentu dari data tersebut penguatan literasi masih perlu dioptimalkan dimulai dari jenjang pendidikan tingkat dasar khususnya saat siswa duduk di kelas awal (kelas 1, 2, dan 3 Sekolah Dasar). Salah satunya melalui pemanfaatan media literasi dalam proses pembelajaran di kelas.

Media literasi merupakan proses yang mengintegrasikan penyelidikan secara ktitis serta memerlukan keterampilan bagaimana mengakses, menganalisis, mengevaluasi, membuat, dan mendistribusikan pesan dengan keterlibatan secara penuh dan partisipasi aktif (Laily & Gunansyah,2018: 14). Media literasi meliputi unsur keterampilan berbahasa yang terdiri dari (1) keterampilan menulis, (2) membaca, (3) menyimak, (4) berbicara, dan (5) bersastra. Dari kelima keterampilan tersebut, yang menjadi sorotan adalah keterampilan membaca. Melalui media literasi, guru dapat mengkondisikan partisipasi siswa secara aktif.

Salah satu media literasi yang dapat digunakan oleh guru pada saat pembelajaran membaca permulaan yaitu media big book. Big book merupakan salah salah satu media pembelajaran visual yang berkarakteristik khusus di antara media pembelajaran lainnya. Menurut Madyawati (2016: 174) “big book adalah buku bergambar yang dipilih untuk diperbesarkan, yang memiliki karakteristik yang khusus, yaitu adanya pembesaran teks maupun gambar”.

Sesuai dengan namanya, Big book atau buku besar merupakan buku cerita yang berkarakteristik khusus yang dibesarkan, baik teks maupun gambarnya, sehingga memungkinkan terjadinya kegiatan membaca bersama antara guru dan murid. Buku ini mempunyai karakteristik khusus seperti penuh warna-warni, memiliki kata yang dapat diulang-ulang, mempunyai alur cerita yang mudah ditebak, dan memiliki pola teks yang sederhana (Karges dalam Solehuddin, dkk. 2008:7). Sedangkan menurut Karges and Bone dalam United States Agent International Development (2014: 53), agar pembelajaran bahasa dapat lebih efektif dan berhasil, sebuah Big book sebaiknya memiliki ketentuan antara lain; (a) ceritanya singkat (10-15 halaman), (b) Pola kalimat jelas, (c) Gambar memiliki makna, (d) Jenis dan ukuran huruf jelas terbaca, (e) Jalan cerita mudah dipahami.

Dalam praktek pemanfaatan media big book, banyak ragam cara yang dapat digunakan oleh guru. Guru dapat berimprovisasi secara mandiri dalam menggunakan media big book di kelas. Salah satu contoh praktik implementasi big book dalam kelas dapat pembaca tonton pada kanal youtube melalui link berikut https://www.youtube.com/watch?v=W1NHoCmH6d8. Penulis menawarkan prosedur dengan beberapa tahapan dalam penggunaan media big book yaitu sebagai berikut:
1.        Kegiatan pra-membaca
·      Guru memperlihatkan sampul depan serta mengajak anak mengomentari gambar yang ada pada sampul.
·      Guru membacakan judul dan nama pengarang
·      Guru bertanya kepada anak tentang kemungkinan isi cerita berdasarkan pada judul dan ilustrasi sampul.
2.        Kegiatan membaca cerita secara utuh
·      Guru membacakan cerita secara berkesinambungan dari halaman pertama sampai terakhir.
·      Guru menunjuk tulisan dengan menggunakan tangan atau alat penunjuk supaya anak dapat mengikuti dan mengetahui tulisan mana yang sedang mereka baca.
3.        Kegiatan pengulangan membaca
·      Guru membaca ulang halaman demi halaman dengan penuh semangat, bergairah, dan hidup.
·      Guru menunjuk kata-kata dan meminta anak untuk berkomentar.
·      Guru berhenti membaca sejenak untuk memberikan kesempatan kepada anak menebak kata selanjutnya dan meramalkan peristiwa yang akan terjadi.
4.        Kegiatan setelah membaca pengulangan
·      Guru mendiskusikan kata kunci dalam teks dan membantu anak menghubungkan konsep yang satu dengan yang lain.
·      Guru membaca ulang cerita secara bersama-sama.
5.        Kegiatan tindak lanjut
·      Guru mengajak anak memperhatikan pada gambar dan pola kata pada teks.
·      Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk membaca sendiri.

Big book memiliki kelebihan jika digunakan dalam pembelajaran membaca permulaan (literasi membaca). Abidin (2015: 270) menyatakan bahwa “melalui pembacaan big book siswa dapat menghubungkan teks dengan cara pengucapannya”. Hal tersebut dapat terjadi karena dalam big book selain memuat ilustrasi gambar juga disertai teks dengan ukuran yang besar sehingga memudahkan siswa dalam menghubungkan teks dengan cara mengucapkan kata perkata. Selain itu, kelebihan lainnya daripada pembelajaran dengan big book yaitu adanya interaksi dan komunikasi antara siswa dan guru melalui kegiatan membaca bersama.

Selain kelebihan dalam hal membaca, penggunaan big book dalam pembelajaran juga dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk meniru realitas melalui objek simbol dan gambar pada big book. Hal ini gambar adalah bentuk fungsi semiotik yang dapat dianggap setengah jalan antara permainan simbolik dan citra mental sehingga dengan menggunakan buku bergambar, dapat dikatakan bahwa anak-anak telah bermain permainan simbolik, yang berfungsi untuk memberikan kesenangan dan autotelisme dan seperti gambar mental diupaya mereka untuk meniru realitas (Piaget & Inhelder, 2010: 72).
 
Daftar Pustaka
Abidin, Yunus. (2015). Pembelajaran bahasa berbasis pendidikan karakter. Bandung: PT. Refika Aditama.

Kustandi, Cecep & Bambang Sutjipto (2016), Media Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

Laily, K. E. & Gunansyah G. (2018). Penggunaan Media Big Book Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Kelas V SDN Rangkah 1 Surabay. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah
Dasar
. 6, (1). Hlm
.1

Madyawati. (2016). Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak. Jakarta: Prenada
Group.

Solehuddin, dkk., (2008). Pembaharuan Pendidikan TK. Jakarta: Universitas Terbuka.

Piaget, Jean & Barbel Inhelder (2010), Psikologi Anak. Terj. Miftahul Jannah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Minggu, 12 Desember 2021

MODUL LITERASI DIGITAL DI SEKOLAH DASAR

Literasi digital merupakan satu dari enam literasi dasar yang harus dikuasai siswa pada zaman sekarang. Literasi digital yang diterapkan di Sekolah Dasar (SD) berhubungan erat dengan pengimplementasian dari pencanangan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sudah dijalankan pemerintah. Secara umum pencanangan gerakan literasi sekolah merupakan hasil refleksi terhadap evaluasi pencapaian melek literasi rata-rata penduduk Indonesia yang dilakukan dengan tes PISA ternyata masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Hasil rata-rata tes membaca siswa Indonesia masih masuk dalam kategori rendah jika dibandingkan dengan negara peserta Asean. Hal itu dapat dilihat dari hasil uji Programe International Student Assessment (PISA) yang dilakukan tiga tahun sekali.

Sebagai respons dan tindak lanjut dari rendahnya penguasaan literasi peserta didik di Indonesia tersebut, pemerintah menganggap penting dilakukan upaya serius dan konkret untuk meningkatkan kemampuan berliterasi siswa di Indonesia. Upaya peningkatan literasi di SD menjadi sangat penting karena SD menjadi pondasi bagi gerakan literasi berikutnya, yaitu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satu upaya penguatan melek literasi tersebut di tingkat SD adalah penguatan literasi digital. Penguatan literasi digital di SD dikaitkan dengan penguatan kegiatan ekstrakurikuler.

Penguatan literasi digital di SD terintegrasi pelaksanaannya dengan kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, pencapaian tujuan literasi digital di SD selaras dengan pencapaian tujuan ekstrakurikuler itu sendiri.

Adapun karakteristik ekstrakurikuler di SD itu sendiri merupakan kegiatan yang diselenggarakan dengan ciri[1]ciri dan sifat-sifat berikut.
1. Individual, yakni dikembangkan sesuai dengan potensi/bakat peserta didik masing-masing.
2. Pilihan, yakni dikembangkan sesuai dengan minat dan diikuti oleh peserta didik secara sukarela.
3. Memotivasi, yakni membangun semangat peserta didik untuk mengembangkan potensi/bakat melalui kegiatan yang diminati.
4. Kemanfaatan sosial, yakni dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak melupakan kepentingan masyarakat.

Sebagaimana diatur dalam Permendikbud RI Nomor 62 tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, bentuk kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa:
1. Krida, misalnya: Kepramukaan, Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya;
2. Karya ilmiah, misalnya: Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya;
3. Latihan olah-bakat dan olah-minat, misalnya: pengembangan bakat olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, dan lainnya;
4. Keagamaan, misalnya: Tahfiz QUR’AN, baca tulis ALQUR’AN, marawis, retreat; atau
5. Bidang pengembangan lainnya, yang disesuaikan dengan prioritas dan analisis potensi dan minat peserta didik di sekolah. (Kemdikbud. 2021. Ekstrakurikuler. http://ditpsd.kemdikbud.go.id/hal/ekstrakurikuler).

Dengan kata lain, penguatan literasi digital di SD, bukan hanya menggunakan internet untuk mencari informasi atau hiburan, tetapi juga mengaitkannya dengan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Implementasi literasi digital dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang menarik dengan menggunakan sumber digital. Sementara itu, literasi digital dengan penggunaan, etika, penyadaran kolektif bermedsos bagi peserta didik di SD perlu diedukasi sesuai dengan penggunaan yang diperlukan dan terhindar dari perundungan, permainan (game) yang menjadi candu, korban medsos, dan korban kelalaian dalam pengelolaan waktu. Tercapai atau tidaknya tujuan literasi digital juga ditentukan oleh kesiapan bahan, baik untuk guru, siswa, maupun bahan untuk pembinaan guru; terutama yang berkaitan bahan pembelajaran ekstrakurikuler.

Untuk mempermudah sekolah dalam menerapkan literasi digital keapda siswa, maka Direktorat SD Kemdikbud menyusun modul khusus literasi digital jenjang Sekolah Dasar (SD).

Dalam modul tersebut diuraikan sekilas tentang literasi digital, juga dijelaskan tentang materi dan kegiatan serta praktik baik literasi finansial pada pembelajaran ekstrakurikuler. Meskipun demikian, pada bagian-bagian tertentu ada kegiatan yang dapat dan/atau telah dilakukan pada pendidikan di Sekolah Dasar.

Modul ini diharapkan mampu memberikan penguatan literasi digital di sekolah yang akan membantu guru dan siswa khususnya pada jenjang sekolah dasar atau yang setara. Oleh karena, bahan disusun lebih sederhana sehingga mudah dipahami dan diterapkan serta dikembang guru di sekolah sesuai dengan kondisi dan situasi sekolah.

Pembaca dapat mengunduh file modul melalui URL berikut:

Senin, 13 April 2020

PROTOTIPE APLIKASI TES KEPRIBADIAN DAN PILIHAN KARIER

Tidak sedikit dari pelajar SMA yang bingung akan jurusan apa yang akan ditempuhnya nanti di Perguruan Tinggi. Mereka bingung hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan ketika hendak memilih jurusan. Mereka bingung bidang apa yang akan digelutinya. Mereka juga bingung dengan karier apa yang akan mereka pilih untuk masa depannya.
Seringkali kebingunan tersebut berujung cekcok antara orang tua dengan anak. Orang tua menyuruh anak kuliah di jurusan A sedangkan anak ingin berkuliah di jurusan B. Anak ingin menjadi guru tapi orang tua ingin menjadi dokter, dan sebagainya. Bahkan seringkali sampai terjadi kasus anak "minggat" dari rumah karena hal seperti ini. Mayoritas anak akhirnya pasrah atas keputusan pilihan orang tua dan alhasil anak menjalani pendidikannya tidak sesuai dengan minatnya tetapi atas minat orang tuanya.
Pertanyaan besarnya adalah, kenapa tidak jauh hari sejak lulus pendidikan dasar sudah didiskusikan oleh orang tua bersama anak?. Dimana peran sekolah? Bukankah secara desain alur persekolahan, setiap lulusan akan dihadapi dengan dua pilihan: (1) bekerja, dan/atau (2) melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Dimana peran guru BK yang seharusnya selama menempuh pendidikan siswa dibantu melalui kegiatan layanan bimbingan karier?. Faktanya masih jauh panggang dari api., mayotitas orang tua menganggap karier yang baik bagi anak adalah karier yang ditentukan oleh mereka. Masih banyak guru BK yang tidak memberikan layanan bimbingan dan konseling karier di sekolah.
Atas problematika tersebut, Wahsun seorang Pengembang Teknologi Pembelajaran di LPMP Jawa Timur mengkaji dan mengembangkan suatu prototipe aplikasi tes kepribadian dan pilihan karier berbasis desktop yang dapat digunakan oleh siswa, guru BK di sekolah, dan orang tua. Prototipe aplikasi tes kepribadian dan pilihan karier ini dikembangkan berdasar pada kajian keilmuan di bidang psikologi dan konseling karier juga keilmuan di bidang teknologi pendidikan. Basic teori yang digunakan adalah teori karier John L. Holland. Sedangkan model pengembangan yang digunakan adalah model Borg and Gall yang disederhanakan dari sepuluh tahap menjadi tujuh tahap sehingga aplikasi ini masih layak disebut prototipe. Dan kedepan akan terus di kembangkan lagi dengan tiga tahap lanjutan sehingga aplikasi lebih sempurna dan layak dipakai secara luas..
Dalam prototipe aplikasi tes yang diberi nama MahaeswariV.1b ini, kepribadian dikategorikan menjadi enam tipe yaitu tipe Realistic, tipe Investigative, tipe Artistic, tipe Social, tipe Enterprising, dan tipe Conventional. Setelah tipe kepribadian diketahui maka selanjutnya melalui aplikasi dicari Kode Ringkasan yang merupakan kode kecocokan antara tipe kepribadian dengan jenis-jenis pekerjaan. Klasifikasi dan jenis pekerjaan diambil dari The Occupational Finder-nya Holland yang terdiri dari 500 jenis/nama pekerjaan, dan nama-nama pekerjaan ini telah pengembang sesuaikan dengan nama-nama jabatan yang ada pada Buku Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) tahun 2014. Contoh, seseorang dengan Kode IAS maka pekerjaan yang cocok adalah Ahli Ekonomi, Ahli Matematika/Statistika, atau Ahli Analisis Riset Pasar.
Selain dipergunakan dalam lingkup pendidikan di sekolah, aplikasi juga sangat cocok dipergunakan pada bagian HRD di instansi pemerintah maupun swasta dan industri untuk menentukan penempatan posisi dan jabatan yang tepat bagi karyawan.
Saat ini Aplikasi MahaeswariV.1b sedang dikembang lagi dalam versi web sehingga lebih mudah digunakan. Dan sudah tersedia buku Konseling Zaman Now yang ditulis oleh pengembang yang berisi kajian teoritik dan panduan penggunaan model layanan konseling kariernya yang telah teruji secara saintifik. Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan buku dan pelatihan model layanan konseling karier berbantuan aplikasi dapat berkomunikasi melalui email wahsunlpmpjatim@gmail.com.

Wahsun
Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda
LPMP Jawa Timur

Minggu, 12 April 2020

TREND PENGGUNAAN PLATFORM BELAJAR ONLINE OLEH GURU DI TENGAH WABAH PANDEMI COVID-19

Penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19) semakin menjadi di Indonesia khususnya di Provinsi Jawa Timur. Data per-tanggal 28 Maret 2020 di Provinsi Jawa Timur terdapat 77 orang positif Covid-19, 307 Orang Pasien Dalam Pengawasan (ODP), dan 4,568 Orang Dalam Pemantauan (ODP). Tentu kita semua berharap agar wabah ini segera berakhir karena masalah ini tidak hanya berdampak pada bidang kesehatan saja tetapi juga berdampak pada bidang lain seperti ekonomi, pariwisata, dan lainnya. Terlebih lagi wabah ini juga sangat berdampak pada bidang pendidikan dimana Pemerintah Pusat dan Daerah dengan terpaksa mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sekolah.
Pemerintah pusat melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corona Virus Disease (Covid-19). Dua kebijakan penting dari surat edaran tersebut yaitu sekolah melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) kepada siswa dan pembatalan pelaksanaan Ujian Nasional. 
Terkait dengan pembelajaran jarak jauh, Kemdikbud telah melakukan kerjasama dengan beberapa pisah swasta yang fokus mengembangkan sistem pendidikan secara daring antara lain Google Indonesia, Kelas Pintar, Microsoft, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, dan Zenius. Dan mitra telah mendukung tawaran kerjasama tersebut dengan menyatakan kesanggupannya untuk berkontribusi menyelenggarakan sistem belajar secara daring. Setiap platform akan memberikan fasilitas yang dapat diakses secara umum dan gratis. 
Penulis tertarik untuk melakukan kajian terhadap pemanfaatan platform-platform sistem belajar online yang digunakan oleh guru khususnya di Provinsi Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan pendekatan survey terhadap 1,386 sampel responden dari seluruh Kabupaten dan Kota dan seluruh jenjang. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online menggunakan media google form dengan teknis oneshot by respondent dimana responden hanya dapat menjawab satu kali dan tidak bisa memperbaiki isian yang telah terkirim. Penyebaran kuesioner dimulai tanggal 17 Maret 2020 sampai dengan 26 Maret 2020. Fokus pertanyaan dalam kuesioner difokuskan pada tujuh platform belajar online milik swasta yaitu Google Suite For Education, Kelas Pintar, Ruang Guru, Microsoft Office 365, Quipper School, Sekolahmu, Zenius, dan satu platform milik pemerintah (Kemdikbud) yaitu Rumah Belajar. Akan tetapi dalam kuesioner juga terdapat kolom option lainnya yaitu untuk guru yang menggunakan platfor atau media lainnya selain yang telah direkomendasikan oleh Kemdikbud tersebut. 
Hasil survey menunjukkan bahwa trend penggunaan platform sistem belajar online oleh guru adalah dengan menggunakan aplikasi WhatsApp Group (390 orang; 28,14%), di peringkat berikutnya adalah platform Rumah Belajar (288 orang; 20,78%), Google Suit For Education (269 orang; 19,41%), Microsoft Office 365 (89 orang; 6,42%), Ruang Guru (71 orang; 5,12%), Edmodo (66 orang; 4,76%), Belajar Online Sekolah.mu (46 orang; 3,32%), Kelas Pintar (29 orang; 2,09%), Moodle (26 orang; 1,88%), Quipper School (20 orang; 1,44%), quizizz (14 orang; 1,01%), menggunakan platform lainnya yaitu learning management system yang dikembangkan sendiri oleh sekolah, Zoom Cloud Meeting, ThatQuiz, Schoology, Kahoot, Zenius, CandyCBT, CiscoWebex Meeting, classdojo, Kejar.id, Padlet, QuickEdu, StartMeeting, Talk Fusion sebanyak 39 orang (2,81%), dan belum menggunakan sistem belajar online sebanyak 39 orang (2,81%). 


 Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan platform atau media Pembelajaran Jarak Jauh oleh guru terbanyak adalah dengan menggunakan WhatsApp Group. Penulis tidak memberikan pertanyaan spesifik dalam kuesioner terkait alasan teknis dan non teknis dari guru dalam penggunaan setiap platform karena tujuan survey hanya mencari informasi platform pembelajaran online yang banyak digunakan oleh guru. Tetapi ada beberapa kemungkinan yang menurut penulis menjadi penyebabnya yaitu; 1). Kebijakan pemerintah untuk belajar dirumah yang sangat mendesak, dan 2) ketidakmampuan guru dalam menggunakan platform yang lain. Akan tetapi dua hal ini masih bersifat kemungkinan sehingga diperlukan adanya kajian lebih lanjut. Berharap ada pembaca yang melakukan riset lanjutan terkait hal ini. 
Pertanyaanya adalah apakah guru boleh menggunakan WhatsApp Group sebagai media Pembelajaran Jarak Jauh? Jawabnya tentu saja sangat diperbolehkan. Akan tetapi hendaknya guru lebih mengoptimalkan penggunaan media ini agar lebih sistematis, edukatif dan interaktif. Hal ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu guru membuat e-modul atau membuat video maupun audio pembelajaran yang menarik bagi siswa. bagi guru yang ingin memiliki kemampuan untuk membuat e-modul pembelajaran yang edukatif dan artistik dapat berkomunikasi melalui surel wahsunlpmpjatim@gmail.com.