Sabtu, 16 Januari 2021

MENGEMBALIKAN RUH INDONESIA SEBAGAI KUNCI INDONESIA SEJAHTERA

Oleh : Hasta Rahmadhani, S.IP.

Membicarakan serta mengkaji Indonesia, dari sisi perjalanan sejarah dan berbagai persoalan hingga kurun waktu kekinian kita ibarat seperti  dihadapkan pada tumpukan benang kusut. Kita dihadapkan pada ketidak jelasan. Dari tahun ketahun Indonesia tetap berkubang pada persoalan yang seolah semakin rumit. Bangsa Indonesia dihadapkan berbagai persoalan dari perkara ekonomi, sosial, hukum hingga persoalan politik.
 
Sebagai bagian dari anak bangsa melihat berbagai permasalahan yang ada, kita tergerak untuk dapat berperan serta mengurai benang kusut, centang perenang segala persoalan dan permasalahan yang terjadi ditanah air. Mengapa Indonesia seperti tidak pernah dapat lepas dengan gurita permasalahannya, padahal kita dikenal sebagai bangsa yang besar. Kenapa bangsa Indonesia seperti tidak bisa lepas dengan masalahnya sendiri.
 
Menelisik Masa Lampau Indonesia
Indonesia banyak diceritakan dan dikenal sebagai bangsa besar. Sejarah masa lampau bernama nusantara. Indonesia masa itu dikenal memiliki sejarah yang agung. Pernah berdiri kerajaan-kerajaan di nusantara.
 
Menurut data dalam RPUL Indonesia dan Dunia, disebutkan pernah berdiri kerajaan Kutai, merupakan kerajaan hindu tertua di Indonesia. Berdiri pada tahun 400 M, ditepi sungai Mahakam, di Kalimantan timur. Kemudian kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan Budha berdiri sekitar abad ke 7 di Sumatra. Kerajaan Sriwijaya dikenal sejarah sebagai kerajaan maritim yang pernah ada dinusantara. Kemudian di Jawa ada kerajaan Majapahit berdiri sekitar tahun 1292 yang konon wilayah kekuasaannya sampai negeri Singapura, Thailand. Majapahit memiliki Mahapatih Gajah Mada yang melegenda keberaniannya dan kepahlawanannya dengan sumpah amukti palapa yang agung. Selain itu di nusantara Indonesia juga pernah berdiri kerajaan Mataram Hindu hingga berdirinya Mataram Islam, juga  pernah berdiri kerajaan Kadiri di Kediri dengan rajanya yang mashur bernama Prabu Jayabaya. Serta masih banyak kerajaan – kerajaan lain yang pernah berdiri di nusantara Indonesia.
 
Bukti sejarah seperti keberadaan candi Borobudur, Prambanan yang menjadi salah satu keajaiban dunia, penemuan candi-candi lain, berbagai prasasti dan temuan benda-benda sejarah, tempat-tempat peninggalan masa lampau. Serta berbagai kearifan budaya lokal dan budaya, dan nilai peradaban didalamnya dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Memperkuat bukti bangsa Indonesia memiliki rentang sejarah panjang dan memiliki peradaban yang tinggi.
 
Selain sejarah era zaman kerajaan di nusantara, bangsa Indonesia juga mengalami masa sejarah perjuangan lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang yang menorehkan tauladan Nasionalisme. Sengaja oleh penulis tidak disebutkan mulai tahun berapa dan berapa lama Belanda dan Jepang menjajah Indonesia. Inilah bagian salah satu auto kritik yang coba di gagas didalam tema tulisan ini. Karena ketidakjelasan sejarah dan abu–abunya sejarah masa lampau Indonesia yang hingga kini masih dalam perdebatan berbagai kalangan. Simpang siur sejarah karena tidak punya pijakan data yang akurat. Ada lost History pada sejarah Indonesia.
 
Ironi Indonesia Kini
Kembali pada tema tulisan ini, penulis hendak mengajak mengkaji kenapa Indonesia seperti lepas  kehilangan siapa jati dirinya. Terkait ulasan singkat kajian sejarah diatas penulis hendak membawa kita kepada kontemplasi kebangsaan. Merenung siapa Bangsa Indonesia sesungguhnya, peradaban seperti apa yang dimiliki Indonesia. Akan halnya banyak ditulis dibuku-buku sejarah, literatur-literatur bangsa Indonesia dikatakan memiliki peradaban luhur.
Ironinya sekarang jika melihat berbagai persoalan ditanah air Indonesia, terlihat seperti sebuah negeri yang tidak lagi memiliki kiblat peradaban jelas. Sebagai bangsa yang banyak dikenal memiliki peradaban yang luhur, kontemplasi sejarah tersebut penting. Kita miris sekaligus prihatin dengan fakta yang ada di Indonesia sekarang. Jika kita berkaca pada persoalan-persoalan yang terjadi di Indonesia kurun waktu terakhir, misalnya perbedaan dukungan politik ke salah satu kandidat calon kepala daerah bisa membawa persoalan gesekan. Seolah sesama anak bangsa Indonesia ini seperti mudah saling bermusuhan, berhadap-hadapan satu sama lain, sampai terjadinya berbagai masalah seperti kasus korupsi.
 
Lebih memprihatinkan lagi terjadinya tawuran pelajar, tawuran antar suporter club sepak bola yang bahkan dari tawuran itu sampai memakan korban jiwa. Ada lagi misalnya, belum lama ini di madura, seorang murid membunuh gurunya. Di pontianak ada murid yang memukul kepala gurunya hingga gegar otak karena diingatkan, ditegur gurunya karena main handphone dikelas. Ada juga kisah pilu nestapa dari sudut negeri ini seseorang yang diduga lapar kemudian dia mencuri donat disebuah warung, karena ketahuan warga dan menghindari amuk massa dia menceburkan diri kesungai demi menghindari kejaran massa, yang pada akirnya dia meregang nyawa karena tidak bisa berenang dan tenggelam dibawa arus pusaran sungai. Masih banyak segala persoalan dan permasalahan memprihatinkan yang terjadi di indonesia yang tidak bisa disebutkan satu-persatu pada tulisan ini.
 
Maksud dari penulis adalah mengajak kita semua, bertanya kepada diri kita sendiri, berpikir dan merenung apakah ini Indonesia yang dikenal sebagai bangsa besar itu? Bagaimana mungkin kita akan meraih kesejahteraan sosial Ataukah bagaimana kita akan meraih cita-cita reformasi kalau ternyata rakyat kita tetap banyak yang repot nasi? Sesama anak bangsa mudah terprovokasi dan bertikai satu sama lain. Beda pilihan partai ribut, beda dukungan tim sepak bola saling lempar batu. Beda pilihan presiden 5 tahun kita saling ejek dan lain lain. Tidak bermaksud membesar-besarkan persoalan tapi faktanya itulah yang terjadi. Marilah kita berkaca sebagai bangsa, seharusnya kita bergandeng tangan bersatu sesama anak bangsa sebagai satu keluarga besar. 
 
Seperti halnya amanah UUD 1945 terkait pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial pasal 33 ayat 1 bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan. Artinya adalah bahwa dalam mewujudkan kesejahteraan sosial dan stabilitas perekonomian nasional sebagai syarat mutlaknya adalah iklim kekeluargaan harus dibangun, karena kita tidak mungkin mewujudkan kesejahteraan sosial sementara masih terlibat konflik internal dalam negara. Hal tersebut harus segera kita penuhi sebelum, benar terjadi Indonesia Bubar. Seperti  halnya warning nasional, yang dikatakan tokoh nasional Prabowo Subianto bahwa bangsa Indonesia 2030 akan bubar. 
 
Mengurai Kembali Jati Diri Bangsa Indonesia
Mengawali pembahasan ini penulis teringat wasiat bung Karno Jas Merah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Salah satu manfaat mempelajari sejarah menurut CP Hills adalah untuk membangun rasa cinta tanah air, atau bisa disebut rasa nasionalisme.
 
Sejarah merupakan pelajaran berharga bagi sebuah bangsa jika baik maka itu bisa dipakai sebagai spirit kebangsaan dan energi fundamental perjalanan sebuah bangsa. Jika sejarah masa lampau itu kelam  jangan sampai kita mengulang sejarah itu. Misalnya dalam konteks perjuangan pergerakan revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kisah-kisah heroik pejuang kemerdekaan dari kisah tauladan panglima besar Jendral Soedirman, Soekarno, Bung Hatta, hingga perlawanan bung Tomo beserta arek arek Surabaya dan lain lain. Tentunya membawa tauladan nasionalisme yang luar biasa bagi semua anak bangsa Indonesia. Rasa senasib sepenanggunan sesama anak bangsa dulu mampu menyatukan energi semua elemen anak bangsa untuk bersatu mengusir penjajah dari bumi pertiwi.
 
Kembali pada tema inti tulisan ini, tentang mengembalikan Ruh Indonesia sebagai kunci Indonesia sejahtera. Ruh Indonesia adalah bagaimana kita kembali menengok pada sejarah, mempelajari kembali jati diri bangsa Indonesia. Peradaban nilai apa saja yang dimiliki Indonesia yang dikenal agung itu. Akan halnya sejarah lahirnya Pancasila Bung Karno sebagai tokoh revolusi Indonesia mengatakan, bahwa Pancasila itu digali dari nilai-nilai bangsa Indonesia sendiri. Nilai Ke-Indonesiaan,berakar pada nilai-nilai masa lampau misalnya sejarah-sejarah kerajaaan yang pernah berdiri di nusantara pernah mengalami masa-masa keemasannya. Masa-masa keemasan Kerajaan itulah yang membuktikan sebenarnya semangat kebangsaan itu telah ada, rasa nasionalisme pun sudah ada seperti misalnya tertuang dalam sumpah Amukti Palapa Mahapatih Gajah Mada, yang ingin menyatukan nusantara. Oleh karenanya menurut hemat penulis itu layak digali dan diteliti kembali dan hasil penelitiannya bisa diwariskan dan menjadi bukti otentik bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar disitulah letak Ruh Indonesia. Itulah yang banyak tidak kita tahu, bahkan banyak generasi kita tidak begitu tertarik membahas sejarah. Sejarah kita akirnya cenderung abu-abu karena tidak ada bukti konkrit dan otentik. Saat ini yang ada dan diajarkan dibangku-bangku sekolah adalah buku-buku sejarah yang kadangkala masih penuh perdebatan. Misalnya soal supersemar yang simpang siur. Misalnya lagi soal berapa lama belanda menjajah Indonesia 350 tahun ataukah 126 tahun. Oleh karenanya dalam pemikiran penulis, bisa dikatakan Tidak ada buku atau dokumen yang menyeluruh secara gamblang dan lugas mengenai sejarah Indonesia. Entah apakah ini bagian skenario penjajah masa lampau, yang memang ingin menghilangkan,mengaburkan sejarah Indonesia. Karena syahwat menguasai Indonesia begitu besar dan membabi buta. 
 
Oleh karenanya jika ingin kita bangkit dan keluar dari semua kemelut persoalan kita harus mengenali dulu siapa diri kita, baru kemudian berbicara siapa lawan kita, baru menjawab berbagai tantangan-tantangan kebangsaan yang lain. Meminjam istilah dari maestro perang cina Sun Tzu yang relevan dikaitkan konteks kekinian berbagai peri kehidupan. Seperti yang dikutip di laman fadjardhani.wordpress.com. Jika ingin memenangkan pertempuran maka syarat utamanya adalah kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali medan tempurmu dan kau akan memenangi dengan mudah seribu pertempuran.
 
Dalam pemikiran penulis, ada indikasi kuat bangsa Indonesia menjauh dari peradabannya, atau bahkan mulai tidak mengenali dirinya. Buktinya misalnya justru banyak peneliti, penulis asing yang malah meneliti Indonesia. Bukan tidak mungkin jika pembiaran ini terus berlanjut, bisa jadi generasi kita mendatang belajar sejarah Indonesia dari hasil penelitian para peneliti luar negeri. Fakta itu bisa kita lihat langsung misalnya dideret rak-rak toko buku. Banyak sejarah-sejarah Indonesia, buku-buku budaya, suku di Indonesia, justru ditulis oleh orang asing. Seperti yang dikutip dari laman situs www.tirto.id., ironis lagi, banyak dokumen manuskrip kuno peninggalan sejarah Indonesia berada diperpustakaan Leiden Belanda yang jumlahnya konon lebih banyak dari pada dokumen yang ada diperpustakaan nasional di Indonesia, yakni sebanyak 26 ribu manuskrip kuno, sementara di Perpustakaan Nasional sebanyak 10,3 ribu manuskrip. Melalui fakta-fakta ini saja misalnya. Apakah berani kita mengakui kita tahu siapa bangsa Indonesia, atau mengerti tentang Indonesia? Komitmen kebangsaan kita diuji disini.
 
Strategi Mengurai Benang Kusut Peradaban Sejarah Indonesia
Sejarah harus ditulis kembali, sebagai cara utama kita mengembalikan ruh Ke–Indonesiaan kita. Sebelum kita mengumandangkan kajian nasionalisme yang lain, kajian kebangsaan lain bahkan bercita-cita untuk menyejahterakan Indonesia tapi kita tidak pernah tuntas memahami sejarah kita sendiri. Berikut akan di jabarkan strateginya :
1.  Melakukan rekonsiliasi nasional semua elemen bangsa yang difasilitasi oleh pemerintah. Mengedepankan persatuan,kesatuan sesama anak bangsa sebagai modal membangun, mewujudkan Indonesia sejahtera.
2.   Pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi secara kebijakan pemerintahan terkait penggalian sejarah, kebudayaan, nilai budaya dan kearifan lokal.
3.      Merenegoisasi pemerintah Belanda untuk mengembalikan, menduplikasi, maupun mendata kembali manuskrip kuno, dokumen kuno,peninggalan sejarah yang berada di Leiden, Belanda (atau  mungkin petunjuk,dokumen,peninggalan sejarah yang masih tersebar di negara-negara lain).
4.    Mendata, menyisir kembali warisan budaya beserta kearifan lokal di dalamnya, mengingat Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman khasanah budaya, suku, budaya-budaya lokal untuk dicatat dan dipatenkan, dikembangkan agar nilai ke-Indonesiaannya tidak hilang.
5. Menuliskan ulang melalui penelitian atau meluruskan sejarah Indonesia yang lebih jelas,komprehensif dengan data otentik untuk kepentingan bangsa. Melibatkan sejarahwan, semua elemen anak bangsa yang berkompeten. Kemudian diterbitkan buku putih sejarah Indonesia dari jaman kerajaan hingga saat ini. Sehingga kajian sejarah tidak liar, abu-abu.
6.      Pelajaran kearifan budaya bangsa, seperti misalnya budi pekerti, bisa dibukukan dan dimasukkan ke mata pelajaran secara khusus. Sebagai cara melestarikan karakter ke-Indonesiaan bagi generasi muda di masa mendatang agar nilai kearifan ke-Indonesiaan tersebut tidak hilang. 
 
Atas dasar itu, konsep-konsep nilai ke-Indonesiaan  harus digali kembali, ditampilkan ke permukaan menjadi bagian etos Indonesia, menjadi pedoman anak bangsa yang dapat menggugah rasa nasionalisme yang berimplikasi pada kesetiakawanan nasional, memperkecil potensi konflik sebagai prasayarat utama membangun Indonesia.
 
Selain itu tujuannya adalah untuk membentengi, mempertahankan identitas jati diri bangsa Indonesia dari pengaruh-pengaruh global seperti halnya yang diutarakan seorang guru besar Filsafat Universitas Cairo, Hassan Hanafi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan dunia dalam segala aspeknya, politik, sosial, dan budaya berada dalam kuasa peradaban bernama globalisasi. Sedangkan globalisasi adalah sebuah isu kepentingan yang dihembuskan oleh ideologi kapitalistik.
 
Kontemplasi dan Bergerak untuk Indonesia Sejahtera
Kajian singkat mengenai Mengembalikan Ruh Indonesia sebagai kunci Indonesia sejahtera. Bahwa nasionalisme sesungguhnya adalah penghayatan  atas nilai-nilai Ke-Indonesiaan dan kemudian menerapkannya sebagai dasar fundamental perjuangan sebagai anak bangsa. Jika ruh itu telah menjiwai sanubari anak bangsa lahirlah rasa Nasionalisme yang berimbas pada kesetiakawanan nasional, seperti halnya rasa senasib sepenanggungan. Maka kesejahteraan Indonesia akan mudah tercapai, iklim kesetiakawanan telah menasional sebagai spirit kebangsaan  sebagai modal bergotong-royong saling bahu membahu mewujudkan Indonesia yang jaya sejahtera. Karena mengandalkan dan menggantungkan pada pemerintah saja tidaklah cukup untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi perlu adanya segenap kerjasama baik antara sesama anak bangsa Indonesia. Saatnya kita bergerak mengaktualisasi nilai-nilai ke-Indonesiaan dengan aksi nyata !
 
Daftar Bacaan
 
Hanafi, Hassan. (2003). Cakrawala Baru Peradaban Global. Yogyakarta:IRCiSod
 
Tim Redaksi Pustaka Baru.(2015. Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) Indonesia dan Dunia. Yogyakarta: Pustaka Baru Press
 
Satya, Ratika (ed.). (2013). UUD 1945 dan Fakta Unik Kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta: Bright Publisher
 
Wicaksana, Anom Whani. (2018). Soekarno Sang Guru Bangsa. Jakarta: C-Klik Media
 
Wibowo, Yulianto Sigit. (2005). Marhaenisme Ideologi Perjuangan Soekarno. Yogyakarta: Buana Pustaka.
 
 
 
http://www.wikuwik.com/2016/11/manfaat-sejarah-secara-umum-dan-para-ahli.html?m=1
 
 
*Penulis adalah pemerhati budaya, sejarah, sosial dan politik, dan pendidikan. Beralamat di hastarahmadhan@gmail.com

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan menggunakan bahasa yang santun dan bijak